The Last of Us (Horror Story)

Download for bedtime listening 

English version

The Last of Us

 

Once upon a time, in a world plagued by darkness and despair, there existed a group of survivors known as "The Last of Us." They were the remnants of a once-thriving society, struggling to survive in a post-apocalyptic wasteland overrun by sinister forces.

 

Our story begins with Emma, a young woman with fiery determination burning in her eyes. She was a skilled scavenger, venturing into the desolate ruins of abandoned cities in search of supplies and answers. The world had been ravaged by an unknown catastrophe, leaving behind a haunting emptiness and a relentless darkness that seemed to seep into every corner of existence.

 

Emma's journey led her to an old, decrepit asylum located on the outskirts of a forgotten town. The asylum stood like a forgotten sentinel, a relic of a bygone era. The mere sight of it sent chills down her spine, but she knew that hidden within its walls might lie the answers she desperately sought.

 

With trepidation and a flickering flashlight in hand, Emma ventured into the asylum's depths. The air grew stale and suffocating as she navigated the labyrinthine corridors, the sound of her own footsteps echoing ominously. Strange whispers seemed to dance on the edge of her consciousness, sending shivers down her spine.

 

As she descended deeper into the bowels of the asylum, the darkness became thicker, almost palpable. It clung to her like a suffocating cloak, threatening to consume her sanity. Whispers grew louder, crawling inside her mind, playing tricks on her senses. She questioned her own grip on reality.

 

Every step brought her closer to the asylum's heart, where the truth awaited. The truth of what had befallen the world, and the sinister forces responsible for the devastation. Shadows danced in the corners of her vision, and the walls seemed to pulse with an eerie energy. She could almost hear the heartbeat of the asylum, a pulse that resonated with the darkness itself.

 

Finally, Emma reached the asylum's central chamber—a room drenched in darkness, save for a flickering candle in its center. The feeble flame cast eerie shadows on the cracked walls, revealing glimpses of long-forgotten horrors etched into the asylum's history. A presence lingered, heavy and suffocating, as if the very essence of evil had seeped into the room.

 

As Emma approached the candle, a voice echoed through the chamber—a chilling whisper that seemed to come from within the depths of her own soul. It spoke of sacrifice and redemption, of the key to salvation hidden within the darkest recesses of the asylum. Emma hesitated, her heart torn between the desire to uncover the truth and the instinct to flee.

 

But the choice was taken from her as the room trembled, the walls closing in with a deafening roar. Panic surged through her veins as she realized the true nature of the asylum—a sentient being, a malevolent force that fed on the desperation and fear of those who dared to enter its domain.

 

In a desperate attempt to escape, Emma ran, her footsteps echoing through the twisting corridors. But the asylum was relentless, its walls shifting and rearranging to ensnare her within its clutches. Every door she opened led to a dead-end, every corridor she navigated seemed to loop in an infinite maze.

 

As hope began to dwindle, Emma stumbled upon a hidden chamber—a forgotten library, filled with dusty tomes and forgotten knowledge. The air crackled with arcane energy, and ancient texts whispered their secrets to her. In their pages lay the answers she sought, a glimmer of hope in the encroaching darkness.

 

With newfound determination, Emma unearthed the asylum's darkest secret—a ritual to sever the entity's connection to this realm. It

 

 required a sacrifice, a willing offering of a pure soul to bind the asylum's malevolence. Emma knew what she had to do, what sacrifices she must make for the greater good.

 

In the final climactic act, Emma confronted the asylum's sentient presence, offering herself as the sacrifice. She recited the incantation with fervor, her voice drowning out the asylum's whispers of doubt. The walls trembled, and the darkness convulsed in agony as the ritual took hold.

 

In a blinding flash of light, the asylum shattered, its malevolence dissipating like smoke in the wind. The darkness that had plagued the world for so long receded, leaving behind a glimmer of hope and a chance for rebirth.

 

As Emma emerged from the asylum's ruins, the world outside seemed brighter, as if touched by a newfound light. She carried with her the weight of her sacrifice, forever changed by the horrors she had witnessed. Yet, she remained resolute—a beacon of strength and resilience in a world that desperately needed it.

 

And so, in the wake of her triumph, Emma vowed to rebuild, to gather the scattered survivors and forge a new future from the ashes of the old. The Last of Us would not fade into oblivion but rise as a testament to the strength of the human spirit, to the indomitable will to survive.

 

As the sun set on the wasteland, casting its warm glow on a scarred but hopeful world, the echoes of Emma's journey lingered—a testament to the sacrifices made, the darkness confronted, and the last vestiges of humanity refusing to be extinguished.

 

The Last of Us had found its new beginning.

 

Indonesia version

Terakhir dari kita

 

Dahulu kala, di dunia yang dilanda kegelapan dan keputusasaan, ada sekelompok orang yang selamat yang dikenal sebagai "The Last of Us". Mereka adalah sisa-sisa dari masyarakat yang pernah berkembang pesat, berjuang untuk bertahan hidup di tanah kosong pasca-apokaliptik yang dikuasai oleh kekuatan jahat.

 

Kisah kami dimulai dengan Emma, ​​seorang wanita muda dengan tekad membara di matanya. Dia adalah pemulung yang terampil, berkelana ke reruntuhan kota yang ditinggalkan untuk mencari perbekalan dan jawaban. Dunia telah dirusak oleh malapetaka yang tidak diketahui, meninggalkan kekosongan yang menghantui dan kegelapan tanpa henti yang tampaknya merembes ke setiap sudut keberadaan.

 

Perjalanan Emma membawanya ke rumah sakit jiwa tua yang terletak di pinggiran kota yang terlupakan. Suaka itu berdiri seperti penjaga yang terlupakan, peninggalan zaman dulu. Hanya dengan melihatnya saja sudah membuat tulang punggungnya merinding, tetapi dia tahu bahwa tersembunyi di balik dindingnya mungkin terletak jawaban yang sangat dia cari.

 

Dengan gentar dan senter yang berkedip-kedip di tangan, Emma berkelana ke kedalaman rumah sakit jiwa. Udara menjadi pengap dan mencekik saat dia menavigasi koridor labirin, suara langkah kakinya sendiri bergema dengan tidak menyenangkan. Bisikan-bisikan aneh tampak menari-nari di ujung kesadarannya, membuat tulang punggungnya menggigil.

 

Saat dia turun lebih dalam ke perut rumah sakit jiwa, kegelapan menjadi lebih tebal, hampir bisa diraba. Itu menempel padanya seperti jubah yang menyesakkan, mengancam untuk menghabiskan kewarasannya. Bisikan semakin keras, merayap di dalam benaknya, mempermainkan indranya. Dia mempertanyakan cengkeramannya sendiri pada kenyataan.

 

Setiap langkah membawanya lebih dekat ke jantung rumah sakit jiwa, tempat kebenaran menunggu. Kebenaran tentang apa yang telah menimpa dunia, dan kekuatan jahat yang bertanggung jawab atas kehancuran tersebut. Bayangan menari-nari di sudut pandangannya, dan dinding tampak berdenyut dengan energi yang menakutkan. Dia hampir bisa mendengar detak jantung rumah sakit jiwa, denyut nadi yang beresonansi dengan kegelapan itu sendiri.

 

Akhirnya, Emma mencapai ruang tengah rumah sakit jiwa—ruangan yang bermandikan kegelapan, kecuali lilin yang berkedip-kedip di tengahnya. Nyala api yang lemah menimbulkan bayangan menakutkan di dinding yang retak, mengungkapkan sekilas kengerian yang telah lama terlupakan yang terukir dalam sejarah rumah sakit jiwa. Suatu kehadiran bertahan, berat dan mencekik, seolah-olah esensi kejahatan telah merembes ke dalam ruangan.

 

Saat Emma mendekati lilin, sebuah suara bergema di seluruh ruangan—bisikan dingin yang sepertinya berasal dari lubuk jiwanya sendiri. Itu berbicara tentang pengorbanan dan penebusan, tentang kunci keselamatan yang tersembunyi di relung tergelap rumah sakit jiwa. Emma ragu-ragu, hatinya terbelah antara keinginan untuk mengungkap kebenaran dan naluri untuk melarikan diri.

 

Tapi pilihan diambil darinya saat ruangan bergetar, dinding tertutup dengan suara gemuruh yang memekakkan telinga. Kepanikan melonjak di nadinya saat dia menyadari sifat sebenarnya dari suaka itu — makhluk hidup, kekuatan jahat yang memakan keputusasaan dan ketakutan orang-orang yang berani memasuki wilayahnya.

 

Dalam upaya putus asa untuk melarikan diri, Emma berlari, langkah kakinya bergema melalui koridor yang berliku-liku. Tapi suaka itu tanpa henti, dindingnya bergeser dan diatur ulang untuk menjeratnya dalam cengkeramannya. Setiap pintu yang dia buka mengarah ke jalan buntu, setiap koridor yang dia lalui sepertinya berputar dalam labirin yang tak terbatas.

 

Saat harapan mulai menipis, Emma menemukan sebuah ruangan tersembunyi—perpustakaan yang terlupakan, penuh dengan buku tebal berdebu dan pengetahuan yang terlupakan. Udara berderak dengan energi misterius, dan teks kuno membisikkan rahasia mereka padanya. Di halaman mereka terbentang jawaban yang dia cari, secercah harapan dalam kegelapan yang merambah.

 

Dengan tekad yang baru ditemukan, Emma mengungkap rahasia tergelap rumah sakit jiwa—ritual untuk memutuskan hubungan entitas dengan dunia ini. Dia

 

  membutuhkan pengorbanan, persembahan sukarela dari jiwa yang murni untuk mengikat kejahatan rumah sakit jiwa. Emma tahu apa yang harus dia lakukan, pengorbanan apa yang harus dia lakukan demi kebaikan yang lebih besar.

 

Di babak klimaks terakhir, Emma menghadapi kehadiran suaka, menawarkan dirinya sebagai pengorbanan. Dia melafalkan mantra dengan semangat, suaranya menenggelamkan bisikan keraguan rumah sakit jiwa. Tembok-tembok bergetar, dan kegelapan mengejang kesakitan saat ritual itu berlangsung.

 

Dalam kilatan cahaya yang menyilaukan, suaka itu hancur, kedengkiannya menghilang seperti asap tertiup angin. Kegelapan yang telah melanda dunia begitu lama surut, meninggalkan secercah harapan dan kesempatan untuk kelahiran kembali.

 

Saat Emma muncul dari reruntuhan rumah sakit jiwa, dunia luar tampak lebih terang, seolah tersentuh oleh cahaya yang baru ditemukan. Dia membawa serta beban pengorbanannya, selamanya diubah oleh kengerian yang dia saksikan. Namun, dia tetap teguh—suar kekuatan dan ketahanan di dunia yang sangat membutuhkannya.

 

Maka, setelah kemenangannya, Emma bersumpah untuk membangun kembali, untuk mengumpulkan orang-orang yang selamat dan menempa masa depan baru dari abu masa lalu. The Last of Us tidak akan memudar terlupakan tetapi bangkit sebagai bukti kekuatan jiwa manusia, keinginan gigih untuk bertahan hidup.

 

Saat matahari terbenam di tanah gersang, menyinari dunia yang penuh bekas luka namun penuh harapan, gaung perjalanan Emma tetap ada—bukti dari pengorbanan yang dilakukan, kegelapan yang dihadapi, dan sisa-sisa terakhir umat manusia yang menolak untuk dimusnahkan.

 

The Last of Us telah menemukan awal yang baru.

 

Chinesse version

最后生还者

 

曾几何时,在一个被黑暗和绝望所困扰的世界里,存在着一群被称为最后的我的幸存者。 们是一个曾经繁荣的社会的残余,在邪恶势力肆虐的后世界末日荒原上挣扎求生。

 

们的故事从艾玛开始,她是一位眼中燃烧着炽热决心的年轻女子。 她是一个熟练的拾荒者,冒险进入废弃城市的荒凉废墟寻找补给和答案。 世界被一场不为人知的浩劫所蹂躏,留下了难以忘怀的空虚和无情的黑暗,似乎渗入了存在的每一个角落。

 

玛的旅程将她带到了一座破旧的收容所,该收容所位于一个被遗忘的小镇的郊区。 精神病院就像一个被遗忘的哨兵,一个过去时代的遗迹。 仅仅看到它就让她脊背发凉,但她知道隐藏在它的墙壁内的可能是她拼命寻找的答案。

 

带着恐惧和手上闪烁的手电筒,艾玛冒险进入了疯人院的深处。 当她穿过迷宫般的走廊时,空气变得陈旧而令人窒息,她自己的脚步声不祥地回荡着。 奇怪的耳语似乎在她的意识边缘跳舞,让她的脊椎不寒而栗。

 

当她深入疯人院的深处时,黑暗变得更浓,几乎触手可及。 它像一件令人窒息的斗篷一样紧贴着她,威胁着要消耗她的理智 窃窃私语的声音越来越大,爬进她的脑海,欺骗她的感官。 质疑自己对现实的把握。

 

每一步都让她更接近精神病院的核心,那里等待着真相。 世界降临的真相,以及造成破坏的邪恶势力。 阴影在她视野的角落里舞动,墙壁似乎在跳动着一种诡异的能量。 她几乎可以听到精神病院的心跳声,一种与黑暗本身产生共鸣的脉搏。

 

最后,艾玛到达了精神病院的中央房间——一个漆黑一片的房间,只有中央闪烁的蜡烛。 微弱的火焰在开裂的墙壁上投下了诡异的阴影,让人们瞥见刻在精神病院历史上的早已被遗忘的恐怖事件。 一股气息挥之不去,沉重而令人窒息,仿佛邪恶的本质已经渗入了房间。

 

当艾玛走近蜡烛时,一个声音在房间里回荡——一种似乎来自她灵魂深处的令人毛骨悚然的低语。 谈到了牺牲和救赎,谈到了隐藏在疯人院最黑暗深处的救赎之钥。 玛犹豫了,她的心在揭开真相的渴望和逃跑的本能之间撕裂。

 

但随着房间颤抖,墙壁随着震耳欲聋的轰鸣声关闭,她的选择权被取消了。 当她意识到庇护所的真实本质时,恐慌在她的血管中涌动——一个有知觉的存在,一种以那些胆敢进入其领域的人的绝望和恐惧为食的恶毒力量。

 

为了逃跑,艾玛拼命逃跑,她的脚步声在曲折的走廊里回荡。 但是精神病院是无情的,它的墙壁移动并重新排列以将她困在它的魔掌中。 她打开的每一扇门都通向死胡同,她走过的每一条走廊都仿佛在无限的迷宫中循环。

随着希望开始减弱,艾玛偶然发现了一个隐藏的房间——一个被遗忘的图书馆,里面装满了尘封的书籍和被遗忘的知识。 空气中充满了神秘的能量,古老的文字向她低语着它们的秘密。 在他们的书页中,有她所寻求的答案,那是逐渐逼近的黑暗中的一线希望。

 

带着新的决心,艾玛发现了疯人院最黑暗的秘密——一种切断实体与这个领域联系的仪式。

 

  需要牺牲,自愿提供纯洁的灵魂来束缚疯人院的恶意。 Emma 知道她必须做什么,她必须为更大的利益做出什么样的牺牲。

 

在最后的高潮部分,艾玛面对精神病院的存在,将自己作为牺牲品。 热情地背诵咒语,她的声音淹没了疯人院怀疑的窃窃私语。 墙壁在颤抖,随着仪式的进行,黑暗在痛苦中痉挛。

 

一道耀眼的光芒闪过,疯人院破碎,它的恶意如烟消散在风中。 长久以来困扰世界的黑暗已经退去,留下了一线希望和重生的机会。

 

当艾玛从疯人院的废墟中走出来时,外面的世界似乎更加明亮了,仿佛被新发现的光所触动。 她背负着她牺牲的重量,她因目睹的恐怖而永远改变了。 然而,她仍然坚定不移——在一个迫切需要力量和韧性的世界里,她是一座灯塔。

 

因此,在她的胜利之后,艾玛发誓要重建,聚集分散的幸存者,并在旧的灰烬中打造一个新的未来。 《最后生还者》不会被遗忘,而是会崛起,证明人类精神的力量,证明不屈不挠的生存意志。

 

当太阳落在荒原上,将温暖的光芒投射在伤痕累累但充满希望的世界上时,艾玛旅程的回声萦绕不去——这是对所做出的牺牲、直面的黑暗以及拒绝被熄灭的人类最后遗迹的证明。

 

最后生还者找到了新的开始。

 

Japan version

ラスト・オブ・アス

 

かつて、暗闇と絶望に悩まされた世界に、「The Last of Us」として知られる生存者のグループが存在しました。 彼らはかつて繁栄した社会の残存者であり、邪悪な勢力が跋扈する終末後の荒野で生き残るために奮闘していました。

 

私たちの物語は、目に燃えるような決意を燃やす若い女性、エマから始まります。 彼女は熟練したスカベンジャーであり、物資や答えを求めて放棄された都市の荒れ果てた廃墟に足を踏み入れました。 世界は未知の大災害によって荒廃し、存在の隅々にまで浸透しているかのような、忘れられない空虚と容赦ない闇を残しました。

 

エマの旅は、忘れられた町の郊外にある古くて老朽化した精神病院にたどり着きました。 精神病院は忘れられた番兵、過ぎ去った時代の遺物のように立っていた。 それを見ただけで背筋が寒くなりましたが、その壁の中に彼女が必死に探していた答えが隠されているかもしれないことを彼女は知っていました。

 

エマは不安を感じながら、点滅する懐中電灯を手に、精神病院の奥深くへと足を踏み入れた。 彼女が迷路のような廊下を進んでいると、空気はよどみ、息苦しくなり、彼女自身の足音が不気味に響き渡った。 奇妙なささやきが彼女の意識の端で踊っているようで、背筋が震えた。

 

彼女が精神病院の奥深くに降りていくにつれて、暗闇はさらに濃くなり、ほとんど明白に感じられました。 それは窒息するマントのように彼女にまとわりつき、彼女の正気を蝕む恐れがありました。 ささやき声はますます大きくなり、彼女の心の中に這い、彼女の感覚を悪戯した。 彼女は現実に対する自分自身の捉え方に疑問を抱いた。

 

一歩一歩、彼女は真実が待つ精神病院の中心に近づいていった。 世界を襲った真実と、その荒廃を引き起こした邪悪な勢力。 視界の隅で影が踊り、壁が不気味なエネルギーで脈打っているように見えた。 彼女には、亡命施設の鼓動、暗闇そのものと共鳴する鼓動が聞こえてくるようだった。

 

ついに、エマは精神病院の中央の部屋にたどり着きました。その部屋は、中心にあるろうそくの明滅以外は暗闇に覆われていました。 弱々しい炎がひび割れた壁に不気味な影を落とし、精神病院の歴史に刻み込まれた忘れ去られた恐怖の片鱗を明らかにした。 まるで悪の本質が部屋に染み込んでいるかのように、重くて息が詰まるような存在が残り続けた。

 

エマがろうそくに近づくと、部屋中に声が響き渡りました。それは彼女自身の魂の奥底から聞こえてくるような、ぞっとするようなささやきでした。 それは犠牲と救い、精神病院の最も暗い奥に隠された救いの鍵について語った。 エマはためらい、真実を明らかにしたいという欲求と逃げたいという本能の間で心は引き裂かれました。

 

しかし、部屋が震え、耳をつんざくような轟音とともに壁が迫り、その選択は彼女から奪われました。 亡命施設の本当の性質、つまり、その領域にあえて侵入した人々の絶望と恐怖を糧とする悪意のある存在である意識を持った存在であることを理解したとき、彼女の血管にパニックが押し寄せた。

 

必死に逃げようとして、エマは走りました。その足音は曲がりくねった廊下に響きました。 しかし、精神病院は容赦なく、壁が変化し、配置を変えて彼女をその手中に閉じ込めた。 彼女が開いたすべてのドアは行き止まりに通じており、彼女がナビゲートするすべての廊下は無限の迷路をループしているように見えました。

希望が薄れ始めたとき、エマは隠された部屋を見つけました。それは、埃っぽい本や忘れ去られた知識で満たされた忘れられた図書館でした。 空気は難解なエネルギーでパチパチと音を立て、古代の文書がその秘密を彼女にささやきました。 彼らのページには、彼女が探していた答えがあり、迫りくる闇の中に一縷の希望があった。

 

エマは新たな決意を持って、精神病院の最も暗い秘密、つまりこの領域と実体のつながりを断つための儀式を暴いた。 それ

 

  亡命施設の悪意を拘束するには、犠牲が必要であり、純粋な魂を喜んで捧げる必要があった。 エマは、自分が何をしなければならないか、より大きな利益のために何を犠牲にしなければならないかを知っていました。

 

最後のクライマックスで、エマは精神病院の存在と対峙し、自らを犠牲として捧げた。 彼女は熱心に呪文を唱え、その声は精神病院の疑惑のささやきをかき消した。 儀式が行われると壁が震え、暗闇が苦痛に震えた。

 

まばゆい光の中で精神病院は粉々になり、その悪意は風に吹かれる煙のように消え去った。 長い間世界を悩ませていた闇は遠ざかり、一縷の希望と再生のチャンスが残されました。

 

エマが精神病院の廃墟から出てくると、外の世界はまるで新たに見つけた光に触れたかのように明るく見えました。 彼女は自分の犠牲の重みを持ち続けましたが、それは彼女が目撃した恐怖によって永遠に変わりました。 それでも、彼女は毅然とした態度を保ち、それを切実に必要としている世界において、強さと立ち直りの光となりました。

 

そして、エマは勝利をきっかけに復興を誓い、散り散りになった生存者を集め、古い残骸から新しい未来を築くことを誓った。 The Last of Us』は忘れ去られるのではなく、人間の精神の強さ、生き残ろうとする不屈の意志の証として立ち上がるでしょう。

 

荒野に太陽が沈み、傷だらけだが希望に満ちた世界に暖かい光を投げかけると、エマの旅の残響が残りました。これは、払われた犠牲、立ち向かう闇、そして消え去ることを拒否した人類の最後の痕跡の証です。

 

『ラスト・オブ・アス』は新たな始まりを見つけた。

Comments

Popular posts from this blog

"Skinamarink" and 9 Other Strange and Terrifying Experimental Horror Films

GENDERUWO (HORROR STORY)

Hantu Tetek (Horror Story)