The Kappa's Haunting (Horror story)

Download for bedtime listening 

English version

Once upon a time, in a peaceful village nestled amidst lush greenery, a young girl named Ayumi lived with her family. The village was surrounded by a tranquil river that flowed through the heart of the town, providing water and sustenance to the villagers.

However, beneath the calm surface of the river lurked a mischievous creature known as the Kappa. The Kappa was a legendary water spirit with a scaly reptilian body, a beak-like mouth, and a hollow atop its head filled with water.

Ayumi had heard stories about the Kappa from her grandmother, tales of its misdeeds and the danger it posed to those who dared to venture near the water's edge. The villagers believed that the Kappa had to be appeased with offerings to ensure their safety.

One fateful day, as Ayumi strolled along the riverbank, admiring the serenity of the water, she noticed a curious sight. A small, green creature with glistening scales and a mischievous smile emerged from the depths. It was a Kappa!

Intrigued by the legend, Ayumi approached the Kappa cautiously. The creature, sensing her presence, turned its gaze towards her. Ayumi's heart pounded with both fear and curiosity.

"Who are you?" Ayumi asked, her voice quivering.

"I am Koji, the Kappa," the creature replied, his voice as soft as the babbling river. "Why have you come to my domain, little human?"

"I've heard stories about you, Koji," Ayumi said, her voice filled with trepidation. "They say you bring misfortune to those who encounter you. Is it true?"

The Kappa chuckled, its laughter echoing through the surrounding trees. "Ah, the tales you humans spin. Yes, I can be mischievous, but I am not inherently malevolent. It is up to you to find out."

Intrigued by Koji's words, Ayumi decided to spend more time with the Kappa, learning about its nature and intentions. The creature taught her about the delicate balance of the natural world and the importance of respecting the spirits that inhabited it.

Days turned into weeks, and Ayumi's bond with Koji grew stronger. The villagers began to notice the change in Ayumi, her once fearful eyes now filled with understanding and compassion.

However, not all villagers shared Ayumi's newfound appreciation for the Kappa. Some saw it as a threat, an entity to be feared and eradicated. Led by an elder who clung to ancient superstitions, they plotted to capture and banish the Kappa from the village.

Ayumi, aware of the impending danger, embarked on a quest to protect her friend. She pleaded with the villagers, explaining the Kappa's true nature and the lessons it had taught her. But her words fell on deaf ears, and the villagers remained steadfast in their beliefs.

As dusk settled over the village, the villagers set their plan into motion. Armed with torches and nets, they descended upon the riverbank, intent on capturing the Kappa.

 

Ayumi rushed to the riverside, her heart pounding in her chest. She stood before the enraged mob, pleading for their understanding. But her pleas were met with scorn and accusations of witchcraft.

Just as the villagers closed in on Koji, a sudden change occurred. Dark storm clouds rolled across the sky, and thunder rumbled ominously. Rain poured down in torrents, turning the river into a raging torrent.

From the tumultuous waters, a towering figure emerged. It was the Kappa, but transformed into a colossal spirit of water, its power dwarfing the villagers' meager attempts.

With a wave of its hand, the Kappa unleashed a torrential downpour, drenching the villagers and dowsing their torches. Fear-stricken and humbled, they scattered, seeking shelter from the wrath of the spirit.

Ayumi, standing at the forefront, watched the Kappa's display of power with a mix of awe and concern. She knew that the Kappa's anger stemmed from the villagers' ignorance and fear, but she also feared the destruction it could unleash.

In a voice that boomed like thunder, the Kappa spoke to Ayumi, "You have shown me kindness and understanding, Ayumi. I shall spare the village this time, but they must learn to coexist with the spirits of nature."

With those words, the Kappa receded into the depths of the river, leaving Ayumi standing amidst the pouring rain and the village in a state of awe and realization.

From that day forward, the villagers recognized the Kappa as a guardian of the river and protector of their land. They understood the importance of harmony between humans and spirits and offered prayers and offerings to appease the Kappa's spirit.

Ayumi became a bridge between the village and the spirit world, sharing the wisdom and teachings of the Kappa. The village flourished, and stories of Ayumi's encounter with the Kappa echoed through generations, reminding them of the importance of respect and harmony with nature.

And so, the legend of Ayumi and the Kappa lived on, serving as a reminder to all that sometimes, true understanding and compassion can transform even the most misunderstood creatures into allies and protectors.

 

Indonesia version

Dahulu kala, di sebuah desa yang damai di tengah tanaman hijau subur, seorang gadis muda bernama Ayumi tinggal bersama keluarganya. Desa itu dikelilingi oleh sungai tenang yang mengalir melalui jantung kota, menyediakan air dan makanan bagi penduduk desa.

Namun, di bawah permukaan sungai yang tenang mengintai makhluk nakal yang dikenal sebagai Kappa. Kappa adalah roh air legendaris dengan tubuh reptil bersisik, mulut seperti paruh, dan cekungan di atas kepalanya berisi air.

Ayumi telah mendengar cerita tentang Kappa dari neneknya, cerita tentang kesalahannya dan bahaya yang ditimbulkannya bagi mereka yang berani menjelajah di dekat tepi air. Penduduk desa percaya bahwa Kappa harus ditenangkan dengan persembahan untuk memastikan keselamatan mereka.

Suatu hari yang menentukan, saat Ayumi berjalan-jalan di sepanjang tepi sungai, mengagumi ketenangan air, dia melihat pemandangan yang aneh. Makhluk kecil berwarna hijau dengan sisik berkilau dan senyum nakal muncul dari kedalaman. Itu adalah Kappa!

Penasaran dengan legenda tersebut, Ayumi mendekati Kappa dengan hati-hati. Makhluk itu, merasakan kehadirannya, mengalihkan pandangannya ke arahnya. Jantung Ayumi berdebar karena ketakutan dan keingintahuan.

"Siapa kamu?" tanya Ayumi, suaranya bergetar.

"Aku Koji, Kappa," jawab makhluk itu, suaranya selembut sungai yang mengoceh. "Kenapa kamu datang ke wilayahku, manusia kecil?"

"Aku pernah mendengar cerita tentangmu, Koji," kata Ayumi, suaranya dipenuhi gentar. "Mereka bilang kamu membawa malapetaka bagi mereka yang bertemu denganmu. Apakah itu benar?"

Kappa terkekeh, tawanya bergema di antara pepohonan di sekitarnya. "Ah, dongeng-dongeng yang kalian putar manusia. Ya, aku bisa saja nakal, tapi pada dasarnya aku tidak jahat. Terserah kalian untuk mengetahuinya."

Penasaran dengan kata-kata Koji, Ayumi memutuskan untuk menghabiskan lebih banyak waktu dengan Kappa, mempelajari sifat dan niatnya. Makhluk itu mengajarinya tentang keseimbangan halus dunia alami dan pentingnya menghormati roh yang menghuninya.

Hari berganti minggu, dan ikatan Ayumi dengan Koji semakin kuat. Penduduk desa mulai memperhatikan perubahan Ayumi, matanya yang dulu ketakutan sekarang dipenuhi dengan pengertian dan kasih sayang.

Namun, tidak semua penduduk desa berbagi apresiasi yang baru ditemukan Ayumi untuk Kappa. Beberapa melihatnya sebagai ancaman, entitas yang harus ditakuti dan diberantas. Dipimpin oleh seorang tetua yang berpegang teguh pada takhayul kuno, mereka berencana untuk menangkap dan mengusir Kappa dari desa.

Ayumi, menyadari bahaya yang akan datang, memulai misi untuk melindungi temannya. Dia memohon kepada penduduk desa, menjelaskan sifat asli Kappa dan pelajaran yang telah diajarkan padanya. Tapi kata-katanya tidak didengar, dan penduduk desa tetap teguh pada keyakinan mereka.

Saat senja menyelimuti desa, penduduk desa menjalankan rencana mereka. Berbekal obor dan jaring, mereka turun ke tepi sungai, berniat menangkap Kappa.

 

Ayumi bergegas ke tepi sungai, jantungnya berdebar kencang. Dia berdiri di depan massa yang marah, memohon pengertian mereka. Tapi permintaannya ditanggapi dengan cemoohan dan tuduhan ilmu sihir.

Saat penduduk desa mendekati Koji, perubahan mendadak terjadi. Awan badai gelap bergulung melintasi langit, dan guntur bergemuruh tak menyenangkan. Hujan mengguyur deras, mengubah sungai menjadi semburan yang mengamuk.

Dari air yang kacau, sosok yang menjulang tinggi muncul. Itu adalah Kappa, tetapi berubah menjadi roh air yang sangat besar, kekuatannya mengerdilkan usaha kecil penduduk desa.

Dengan lambaian tangannya, Kappa mengeluarkan hujan deras, membasahi penduduk desa dan memadamkan obor mereka. Karena ketakutan dan rendah hati, mereka berpencar, mencari perlindungan dari murka roh.

Ayumi, yang berdiri di garis depan, menyaksikan pertunjukan kekuatan Kappa dengan campuran kekaguman dan perhatian. Dia tahu bahwa kemarahan Kappa berasal dari ketidaktahuan dan ketakutan penduduk desa, tetapi dia juga takut akan kehancuran yang bisa terjadi.

Dengan suara menggelegar seperti guntur, Kappa berbicara kepada Ayumi, "Kamu telah menunjukkan kebaikan dan pengertian kepadaku, Ayumi. Aku akan mengampuni desa kali ini, tetapi mereka harus belajar hidup berdampingan dengan roh alam."

Dengan kata-kata itu, Kappa mundur ke kedalaman sungai, meninggalkan Ayumi berdiri di tengah hujan lebat dan desa dalam keadaan kagum dan sadar.

Sejak hari itu, penduduk desa mengakui Kappa sebagai penjaga sungai dan pelindung tanah mereka. Mereka memahami pentingnya keharmonisan antara manusia dan roh dan mempersembahkan doa dan persembahan untuk menenangkan roh Kappa.

Ayumi menjadi jembatan antara desa dan dunia roh, berbagi kebijaksanaan dan ajaran Kappa. Desa berkembang, dan kisah pertemuan Ayumi dengan Kappa bergema dari generasi ke generasi, mengingatkan mereka akan pentingnya rasa hormat dan harmoni dengan alam.

Maka, legenda Ayumi dan Kappa terus hidup, berfungsi sebagai pengingat bagi semua orang bahwa terkadang, pemahaman dan belas kasih sejati dapat mengubah bahkan makhluk yang paling disalahpahami menjadi sekutu dan pelindung.

 

Chinesse version

从前,在一个绿树成荫的宁静村庄里,一位名叫步美的年轻女孩和她的家人住在一起。 村庄周围环绕着一条平静的河流,河流流经镇中心,为村民提供水和食物。

然而,在平静的河面下面潜伏着一种被称为河童的顽皮生物。 河童是传说中的水精灵,有着鳞片爬行动物般的身体、喙状的嘴巴,头顶上有一个空洞,里面充满了水。

步美从她的祖母那里听说过关于河童的故事,关于它的恶行以及它对那些敢于冒险靠近水边的人造成的危险的故事。 村民们认为,必须用祭品安抚河童才能确保他们的安全。

在一个决定性的一天,当步美沿着河岸漫步,欣赏河水的宁静时,她注意到了一个奇怪的景象。 一个有着闪闪发光的鳞片和顽皮微笑的绿色小生物从深处浮现出来。 那是河童!

步美对这个传说很感兴趣,小心翼翼地接近河童。 那生物察觉到了她的存在,将目光转向了她。 亚由美的心因恐惧和好奇而狂跳。

你是谁? 亚由美声音颤抖地问道。

我是河童浩二,这个生物回答道,他的声音像潺潺的河流一样柔和。小人类,你为何来到我的领地?

我听说过关于你的故事,浩二,步美说道,她的声音充满了恐惧。们说你会给遇到你的人带来不幸,是真的吗?

河童咯咯笑起来,笑声在周围的树林中回荡。啊,你们人类编造的故事。是的,我可能很顽皮,但我并不是天生恶毒。这取决于你去发现。

浩司的话引起了兴趣,步美决定花更多时间与河童相处,了解它的本质和意图。 这个生物教会了她自然世界的微妙平衡以及尊重居住在其中的灵魂的重要性。

日子一天天过去,步美和晃司的感情也越来越深厚。 村民们开始注意到步美的变化,她曾经充满恐惧的眼神现在充满了理解和同情。

然而,并非所有村民都认同步美对河童的新认识。 有些人将其视为一种威胁,一种值得恐惧和根除的实体。 在一位坚持古老迷信的长老的带领下,他们密谋捕获河童并将其驱逐出村子。

亚由美意识到迫在眉睫的危险,开始寻求保护她的朋友。 恳求村民,解释河童的真实本性以及河童给她带来的教训。 但村民们对她的话置若罔闻,依然坚定自己的信念。

暮色笼罩村庄时,村民们开始了他们的计划。 们手持火把和网,降落在河岸上,意图捕获河童。

 

亚由美冲到河边,心脏在胸腔里狂跳。 她站在愤怒的暴民面前,恳求他们的理解。 但她的恳求遭到了蔑视和巫术指控。

就在村民们逼近浩二的时候,突然发生了变故。 天空中乌云滚滚,雷声隆隆,不祥。 倾盆大雨倾盆而下,河水变得汹涌澎湃。

汹涌的海水之中,一道高大的身影浮现而出。 它是河童,但变成了巨大的水之精灵,它的力量让村民们的微薄尝试相形见绌。

河童一挥手,倾盆大雨倾盆而下,村民们被淋湿,火把也被浇灭。 们充满恐惧和谦卑,四散奔逃,寻求庇护以躲避邪灵的愤怒。

站在最前面的步美带着敬畏和担忧看着河童展现的力量。 她知道河童的愤怒源于村民的无知和恐惧,但她也担心它可能带来的破坏。

河童用雷霆般的声音对步美说道:步美,你对我表现出了仁慈和理解。这次我会饶过这个村庄,但他们必须学会与自然之灵共存。

说完,河童就退入了河水深处,留下步美站在倾盆大雨中,村子里一片敬畏和恍然大悟。

从那天起,村民们就认定河童是河流的守护者和土地的保护者。 们了解人与神灵和谐的重要性,并通过祈祷和供奉来安抚河童的灵魂。

步美成为村庄和精神世界之间的桥梁,分享河童的智慧和教义。 这个村庄蓬勃发展,步美与河童相遇的故事代代相传,提醒他们尊重自然、与自然和谐相处的重要性。

因此,步美和河童的传说继续存在,提醒所有人,有时,真正的理解和同情心甚至可以将最容易被误解的生物变成盟友和保护者。

 

Japan version

むかしむかし、緑豊かな静かな村に、あゆみという少女が家族とともに住んでいました。 村は町の中心部を流れる静かな川に囲まれており、村民に水と食料を供給していました。

しかし、穏やかな川面の下には河童と呼ばれるいたずら好きな生き物が潜んでいました。 カッパは、鱗状の爬虫類の体、くちばしのような口、そして頭の上の空洞が水で満たされている伝説的な水の精霊でした。

あゆみさんは祖母から河童についての話を聞いており、河童の悪行や、あえて水辺に近づこうとする人々に河童がもたらす危険についての話を聞いていた。 村人たちは、河童の安全を確保するには供物をあげて河童をなだめなければならないと信じていました。

運命の日、あゆみは水の静けさを眺めながら川岸を散歩していると、奇妙な光景に気づきました。 輝く鱗といたずらな笑みを浮かべた、小さな緑色の生き物が深層から現れました。 カッパでした!

その伝説に興味をそそられたあゆみは、慎重に河童に近づきました。 その生き物は彼女の存在を感じ、視線を彼女に向けた。 あゆみの心は恐怖と好奇心で高鳴った。

"あなたは誰?" あゆみは声を震わせながら尋ねた。

「私は河童のコウジです」と生き物は川のせせらぎのように優しい声で答えた。 「なぜ私の領域に来たのですか、小さな人間よ?」

「コージ、あなたのことについては聞いています」とあゆみは不安に満ちた声で言った。 「あなたは出会った人に不幸をもたらすと言われていますが、本当ですか?」

河童はくすくすと笑い、その笑い声が周囲の木々に響き渡りました。 「ああ、あなたたち人間が紡ぐ物語。確かに、私はいたずら好きなところはありますが、本質的に悪意があるわけではありません。それを見つけるのはあなた次第です。」

コウジの言葉に興味をそそられたあゆみは、カッパともっと時間を過ごし、カッパの性質や意図を学ぶことにしました。 その生き物は彼女に、自然界の微妙なバランスと、そこに住む精霊を尊重することの大切さを教えてくれました。

数日が数週間に変わり、あゆみとコージの絆はさらに深まりました。 村人たちはあゆみの変化に気づき始め、かつては怖かった彼女の目は今では理解と慈悲に満ちています。

しかし、村人全員があゆみの河童に対する新たな感謝の気持ちを共有していたわけではありません。 一部の人はそれを脅威、恐れられ根絶されるべき存在とみなしました。 古代の迷信に固執する長老に率いられ、彼らは河童を捕らえて村から追放する計画を立てました。

差し迫った危険を察知したあゆみは、友人を守るために行動を開始した。 彼女は村人たちに河童の本当の性質と河童が教えてくれた教訓を説明して懇願した。 しかし、彼女の言葉は聞く耳を持たず、村人たちは自分たちの信念を堅持し続けました。

村に夕暮れが沈むと、村人たちは計画を実行に移した。 彼らはたいまつと網を手に河童を捕まえようと川岸に降り立ちました。

 

あゆみは胸を高鳴らせながら川辺へ急いだ。 彼女は激怒する群衆の前に立ち、理解を求めた。 しかし彼女の嘆願は軽蔑と魔術の非難で迎えられた。

村人たちが康二に迫ってきたそのとき、異変が起きた。 暗い嵐の雲が空を横切り、雷が不気味に鳴り響きました。 雨が土砂降りとなり、川は激流と化した。

荒れ狂う水の中から、そびえ立つ人物が現れた。 それは河童だったが、巨大な水の精霊に姿を変え、その力は村人たちのわずかな努力をも矮小化させた。

カッパは手を振るだけで豪雨を引き起こし、村人たちをずぶ濡れにし、たいまつをダウジングしました。 彼らは恐怖に打ちひしがれ、謙虚になり、霊の怒りから逃れられる場所を求めて散り散りになった。

最前線に立つあゆみは、河童の力の誇示を畏怖と不安の入り交じった目で見ていた。 彼女は河童の怒りが村人の無知と恐怖から生じていることを知っていましたが、河童がもたらす破壊も恐れていました。

河童は雷のような声であゆみに語りかけました。「あゆみ、あなたは私に優しさと理解を示してくれました。今回は私が村を助けますが、彼らは自然の精霊と共存することを学ばなければなりません。」

その言葉とともに河童は川の奥へ遠ざかっていき、あゆみは土砂降りの雨の中に佇み、村は畏怖の念と悟りに包まれた。

その日以来、村人たちは河童を川の守護者、土地の守護者として認識しました。 彼らは人間と精霊との調和の重要性を理解しており、河童の魂を鎮めるために祈りと供物を捧げました。

あゆみは村と霊界の架け橋となり、河童の知恵と教えを伝えました。 村は繁栄し、あゆみと河童の出会いの物語は世代を超えて響き渡り、自然への敬意と調和の大切さを思い出させました。

そして、あゆみと河童の伝説は生き続け、真の理解と思いやりが時には、最も誤解されている生き物さえも味方や保護者に変えることができることをすべての人に思い出させてくれました。

Comments

Popular posts from this blog

"Skinamarink" and 9 Other Strange and Terrifying Experimental Horror Films

GENDERUWO (HORROR STORY)

Hantu Tetek (Horror Story)